fbpx
BerOjol,

Diblacklist Gara-gara Motor

driver santai
ilustrasi foto : Gossip Hitz
Bagikan artikel seru ini...

Nasib orang memang nggak bisa ditebak, kadang di atas, kadang di bawah. Kehidupan itu mirip roda berputar. Ini juga yang dialami Adul Fikri (27), seorang mantan Driver Ojol yang terpaksa diputus kontraknya gara-gara laporan penumpang.

Awalnya, Adul adalah driver ojol perintis, artinya dia sudah narik sejak tahun 2010 yakni awal-awal ojek online baru berkembang di Indonesia. Dalam pengakuannya kepada penulis, Adul mengaku dulu kalau narik, sehari dia bisa pegang duit Rp 500ribu atau paling dikit Rp 120 ribu.

“Di awal-awal narik nggak ada matinya. Sehari minimal Rp 120 ribu belum termasuk insentif, tapi itu dulu masih sering ribut dengan ojek pangkalan dan sopir angkot,” cerita Adul. Dari hasil ngojeknya dia bisa beli macam-macam buat keluarganya.

Tapi itu tadi, ibarat roda yang berputar, untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihindari. Suatu kali motornya yang didaftarkan sebagai kendaraan operasional dalam berojol mengalami masalah fatal. Singkat cerita motor itu harus masuk bengkel dalam jangka waktu yang cukup lama.

Karena tak mau kehilangan rejeki, Adul pun meminjam motor saudaranya untuk narik. Sehari dua hari, tak ada masalah ketika dia narik dengan motor pinjaman tadi. Memang ada beberapa customer yang menanyakan kok nomor plat motornya tidak sama seperti yang ada di aplikasi, setelah dijelaskan bahwa motornya sedang rusak, para penumpangnya bisa maklum dengan kondisi itu.

Tapi naas, ada saja penumpang yang iseng. Penumpang itu tak cuma komplain pada Abdul, namun melaporkan kondisi motor yang digunakan oleh Adul berbeda dengan nopol yang tertera di aplikasi. Maka kemudian Adul pun mendapatkan peringatan dari aplikator.

Celakanya, motor Adul yang diperbaiki tak kunjung rampung. Maka Adul kembali narik dengan motor pinjaman. Dan naasnya, kali ini kembali ada penumpang yang iseng melaporkan perbedaan motor yang dipakai narik dan motor yang tertera pada aplikasi. Kali ini tidak hanya tegoran, tapi Adul pun langsung diblacklist dari aplikatornya.

“Ya, sejak saat itu, saya tidak bisa lagi narik karena sudah disuspend selamanya oleh aplikator. Akhirnya karena kebutuhan hidup, saya alih profesi jadi tukang jahit keliling,” cerita Adul.

“Dari sisi penghasilan gimana, Bang?” tanya penulis.

“Wah, jauh. Ya itu, dulu paling apes Rp 120 ribu belum termasuk insentif. Sekarang dapet Rp 50 ribu aja udah sujut syukur,” katanya.
Begitulah ungkapan dan luapan hati dari Adul yang terpaksa sekarang menjadi seorang tukang jait keliling dengan penghasilan yang serba kurang hanya gara-gara dianggap melanggar etika oleh perusahaan aplikator yang bersangkutan. (A3)