fbpx
BerOjol,

Dibuat Malu Sama Anak SD

Illustrasi Ojek Online & Anak SD
Foto hanya ilustrasi
Bagikan artikel seru ini...

Pagi itu, sekitar pukul 06.00 WIB, Jaja mendapatkan order di sekitar Citayam, Depok. Driver ojek berbasis aplikasi ini segera menuju perumahan di Jalan Laskar, menjemput calon penumpangnya. Seorang ibu memesankan ojek online untuk anaknya yang hendak ke sekolah, di salah satu SD dekat Setu Citayam.

Jaja yang juga mempunyai anak yang duduk di bangku sekolah dasar, senang jika mengantar bocah yang hendak ke sekolah.

“Bangga juga jadi driver ojek online. Bisa anter generasi muda penerus bangsa…hahaha…” kata Jaja dalam hati sambil tersenyum.

Driver yang suka ngocol ini segera melajukan motornya ke sekolah yang dituju, setelah ia sampai di rumah penumpangnya.

Anak kecil, cewek, kelas 6 SD sudah dibonceng Jaja. “Lewat Setu aja ya Neng, lewat jalan stasiun, macet,” kata Jaja.

“Iya, Bang,” ucap si anak SD itu.

“Tenang aja, Abang hapal kok jalan tembus dekat Setu. Pasti cepat sampainya dah,” Jaja berkata lagi, meyakinkan si bocah.

Dekat Setu, ada beberapa jalan kecil, dan ujung-ujungnya bisa nembus gedung sekolah SD, tempat si anak itu menuntut ilmu. Dengan sangat yakin, Jaja membelokkan motor menyusuri pinggir Setu kemudian nantinya berbelok di salah satu jalan kecil. Ada beberapa jalan kecil dan Jaja yakin tidak akan salah pilih jalan.

Eh, ternyata salah juga. Jaja hendak membelokkan motornya untuk masuk ke jalan kecil, tapi ternyata jalan buntu.

“Loh kok buntu?” Jaja heran. Dalam pikirannya, inilah jalan kecil yang menuju gedung SD itu. Tak beberapa lama kemudian, ia mendengar tawa si anak kecil.
“Bukan ini, Bang, jalannya. Tuh noh di sono tadi. Udah lewat,” celetuk si cewek kecil itu.
“Salah dong, Abang…” kata Jaja. Ia lalu tertawa ngakak. “Bukan di sini ya. Belok lagi dah kalau gitu.”

Penumpang ciliknya itu masih tertawa melihat salah tingkah Jaja. Driver ojek online yang sok yakin tahu jalan ini ikut tertawa. Untung aja malu sama si kecil. Gimana kalau penumpangnya orang dewasa. Bisa-bisa malah kena semprot atau penumpang kecewa.

“Moga-moga nggak telat ya, Neng,” kata Jaja kepada anak SD itu.
“Nggak, Bang. Kalau telat ya paling cuma ketinggalan doa bersama aja,” kata si anak SD enteng.
“Walah, harus doa dulu, Neng, sebelum belajar, biar lancar,” kata Jaja.
“Berarti Abang belum berdoa dong, kok bisa nyasar…. ha ha ha…,” anak kecil itu tertawa.

Jaja pun ikut tertawa kecut. Dalam hatinya, “Dasar semprul, berani juga tuh bocah ngata-ngatai gua. Hahaha…” (h1)