fbpx
BerOjol, Headline,

Dikerjain Anak Ayam

anak-ayam
Dok Foto : Majalah Sains
Bagikan artikel seru ini...

Ojek Online atau Ojol merupakan salah satu transportasi yang jadi primadona warga kota saat ini. Selain murah, praktis dan banyak promo-promo yang ditawarkan aplikatornya, Ojol juga melayani banyak jasa seperti jasa antar penumpang, jasa antar barang, dan jasa antar beli makanan.

Dari sekian banyak jasa yang ada dalam layanan Ojol ini, Herman (45) yang sudah 3 tahun berprofesi sebagai driver Ojol ini hanya memilih menerima jasa layanan antar barang saja. Profesi ini dia jalani tanpa kenal lelah.
Begitu juga dengan pagi ini, seperti biasa Herman menyiapkan hal-hal yang perlu dibawa sebagai alat tempurnya seperti tali dan tas besar yang didapat dari layanan aplikator. Setelah semua lengkap, Herman pun segera menyalakan aplikasinya tanda siap menerima orderan pertama.

“Bliiitttt!!..blitttt!!” bunyi hp miliknya.

Herman pun langsung meluncur ke lokasi penjemputan barang tersebut. Setibanya di lokasi, Herman langsung mengontak sang klien dan bertemu dengan anak perempuan masih kecil, mungkin masih duduk di sekolah dasar.

“Ini Pak Herman?” tanya bocah itu sambil tersenyum.

“Iya, Neng!” sahut Herman yang heran kalau kliennya anak kecil.

“Tunggu yah, Pak. Saya ambil ayamnya dulu!” kata si anak.

“Ayam ..?” wajah Herman tambah terheran-heran.

Tak lama anak perempuan itu keluar rumah dan membawa dua ekor anak ayam yang masih sangat kecil dengan kantong karton coklat ukuran sedang.

“Anak ayam itu buat apa, Neng?”.

“Ini loh Pak yang mau saya kirim ke rumah temen saya” ujar si anak perempuan dengan wajah lugu.

“Ohhhwalahh jadi saya anter anak ayam?”

“Iya Pak, tolong yah Pak dianter, soalnya teman saya kemarin ulang tahun dan ini kado saya buat dia!” tutur si bocah perempuan.

“Terus saya bawanya pake apa, Neng? Kantong karton itu?” tanya Herman.

“Iya, Pak pake kantong karton ini”

“Ok dehh!” sahut Herman sambil menerima kiriman tadi. “Welleeehhh baru kali ini anter binatang,” pikir Herman dalam hati.

Tanpa banyak bicara lagi, Herman pun langsung tancap gas ke alamat yang dituju. Tapi baru di tengah jalan dia kepanasan karena terik matahari dan macet yang dilalui sepanjang jalan. Maka Herman pun berinisitif untuk berhenti sejenak dan sekadar minum air yang dia bawa. Sambil iseng dia mencoba melihat anak ayam tersebut dan betapa kagetnya karena dua anak ayam tersebut tak bergerak.

“Aduh kok nggak gerak? Gimana ini?” pikir Herman sambil berusaha membuka kantong coklat yang dipakai membawa anak-anak ayam itu.

Saat dikeluarkan Herman baru tersadar kalau bocah perempuan itu tidak melobangi kantong ayamnya. Lalu Herman mengeluarkan satu persatu anak ayam tersebut dan meletakkan di speedometer motor sambil meniup anak-anak ayam tersebut. Tapi anak ayam itu tetap tak ada gerakan seperti mati. Herman pun mencoba mengusap-usap anak ayam itu dan satu dari anak ayam tersebut bergerak perlahan.

“Nahh, loh hidup, Tongg..” wajah Herman mulai tertawa sambil melakukan hal yang sama pada ayam kedua. Dan ayam kedua juga pun akhirnya kembali bergerak. “Eh, buset nih ayam pada ngerjain gue, yah?.”

Setelah memasukkan kembali kantong yang sudah dia bolongin, Herman pun langsung memacu motornya ke alamat yang dituju. Sesampai di lokasi pengantaran, Herman langsung menelepon penerima barang. “Hallo, saya dari expedition express sudah di depan rumah!”

“Iya Pak, saya keluar!” sahut penerima barang.

Tak lama keluarlah seorang anak laki-laki kecil seusia anak perempuan tadi, Herman pun langsung menyapanya, “Ini, Fajar?”

“Iya bener, Pak! Mana anak ayamnya?”

“Ini anak ayamnya, tadi sempet pingsan tuh. Tapi gue elus-elus ehh bangun lagi,” kata Herman.

“Sekarang hidupkan, Pak? ” tanya Fajar.

“Hiduplahh!” kata Herman.

“Kalo mati juga nggak apa-apa kok. Kan dosanya ditanggung, Bapak,” kata si bocah enteng.

“Eit, busyet dah! Ya udah ya, gue jalan dulu!” kata Herman dengan hati yang gondok sambil menyerahkan anak ayam itu dan langsung ngacir pergi. Dalam hati Herman berkata, “Bukan masalah dosa, kalo ayamnya mati, gue terpaksa cari tukang jual anak ayam buat gantiin nih ayam!”. (A3)