BerOjol,

Dikerjain Sama Senior

ojol ngopi picbear
Illustrasi Picbear
Bagikan artikel seru ini...

Karena tak punya pekerjaan tetap, Rudi (sebut saja begitu) memilih untuk mengadu nasib sebagai driver di perusahaan ojek online (ojol). Dan lumayan, pendapatannya dari menarik Ojol ini dapat mencukupi kebutuhan dapur rumah tangganya.

Sebagai orang baru, tentu saja Rudi akan berusaha untuk bersosialisasi dengan siapa saja, termasuk mencari-cari tips and trick supaya orderannya bisa lancar jaya. Maka seorang temannya menyarankan agar dia mangkal di sebuah statsiun kawasan BSD, Tangerang Selatan.

“Udah mangkal aja di situ. Lumayanlah, orderan si ada aja. Dan jaraknya juga biasanya tidak terlalu jauh, jadi kita bisa dapat beberapa trip di sana,” kata kawan si Rudi.

“Tapi katanya, di sana nggak boleh ambil penumpang, Bang? Ojek pangkalannya terkenal ganas! Betul, Bang?” tanya Rudi penasaran karena pernah nonton di televisi banyak ojol yang ribut dengan ojek pangkalan (opang).

“Iya, ambil penumpangnya di jalanan atas aja, jangan dekat statsiunnya. Nanti lu ribut lagi sama ojek-ojek di sana,” ujar sang kawan memberi nasihat.

Setelah mendapatkan trik seperti itu, Rudi jadi semakin semangat mengais rejeki dari ojek berbasis aplikasi tersebut. Dia sudah menargetkan mulai besok, dia akan mangkal di kawasan statsiun itu setelah mendapat beberapa penumpang. Pas, jam 10 ketika order di jalanan dirasanya sudah agak sepi, Rudi bergegas menuju statsiun yang dimaksud.

Dia lihat beberapa penarik ojek aplikasi sedang asyik-asyiknya ngobrol. Ada yang cerita pengalamannya dan ada yang cerita bola, sampai urusan anak bininya. Wah pokoknya seru banget cerita mereka. Rudi pun ikut nimbrung dan berkenalan dengan beberapa dari mereka. Kebetulan si Rudi emang orangnya suka sok kenal sok deket, makanya dia bisa cepet bergaul dengan para ojekers lainnya.

Tiba-tiba, Rudi bertanya kepada seorang driver yang dari tadi agak ngocol. Sejak Rudi nongkrong 15 menit lalu, si driver yang kerap dipanggil Koko ini nggak habis-habis bahan ceritanya. Maka Rudi pun mulai coba mengajak ngobrol.

“Bang, katanya kita nggak boleh ambil penumpang di bawah, ya? Sebab katanya bisa digebukin sama ojek-ojek pangkalan,” kata Rudi dengan serius.

“Ya, sebaiknya sih jangan. Gue aja yang udah lama di sini, nggak mau ngambil penumpang dekat statsiun. Gue sungkan aja, kasihan juga kalau kita ambil kan nanti mereka makan apa?” kata si Koko memberi pengertian.

“Kita kan banyak, kenapa nggak berani, Bang?” pancing Rudi.

“Enggaklah, gue sungkan aja?” cetus si Koko.

“Sungkan apa, nggak berani, Bang?” lanjut Rudi.

Dalam hati si Koko mulai kesal mungkin dengan tingkah si Rudi, dia yang sedang asyik ngopi, jadi kepancing emosinya. “Eits, nih bocah songong juga. Biar gue kerjain aja,” pikirnya.

Kemudian Koko bangun dan nantang si driver yunior ini. “Apa lu bilang, gue takut? Gini aja, kita bertaruh bagaimana? Kalo gue berani ambil penumpang di depan statsiun dan gue nggak digebukin, elo bayarin nih kopi gue sama 4 temen gue, gimana? Kalo gue digebukin atau paling nggak gue adu mulut sama mereka, gue kasih lu Rp 100 ribu?” kata si Koko.

Karena penasaran, Rudi menyanggupi tantangan itu. Sebab berdasarkan informasi temannya, nggak bakalan ada ojek online yang berani ambil penumpang di depan statsiun kalau nggak mau digebukin atau paling nggak ribut sama ojek di sana. Jadi dia pasti akan menang duit Rp 100 ribu.

“Ok, deal Bang!” kata Rudi yang juga penasaran.

Kemudian dia berpaling kepada Udin (sebut aja gitu). “Din lu pegang nih duit, kalo gue ribut atau digebukin, lu kasih nih duit ke dia. Tapi kalau nggak, dia suruh bayar kopi kita!” kata si Koko.

“Siap, Bang!” kata si Udin yang menerima uang itu.

Tiba-tiba dewi fortuna emang datang ke si Koko. Dia dapat order dari aplikasinya. “Iya, Mbak! Tunggu aja di depan statsiun saya jemput di sana!” kata si Koko.

Si Rudi heran dan hanya menyaksikan si Koko melaju ke arah statsiun dan menjemput penumpangnya tanpa diganggu para opang. Bahkan, para opang ngasih lambaian tangan ke si Koko. Maka sesuai perjanjian, si Rudi harus membayar kopi Koko dan teman-temannya. Karena heran Rudi pun tanya kepada Udin.

“Bang, kenapa Bang Koko berani banget ambil penumpang di sana. Dan kok, opang-opang itu diem aja?” tanya Rudi.
Semua teman si Koko ketawa mendengar pertanyaan si Rudi. “Eh, Rud. Bang Koko itu sudah senior di sini dan opang-opang itu bekas temannya mangkal. Jadi pantas aja dia berani dan nggak digebukin, orang ojek-ojek di sana temannya semua. Yang salah lu, yang sotoy. Bang Koko lu lawan, he he he!” kata Udin tertawa lebar.

Rudi pun tersenyum kecut karena merasa telah dikerjain oleh senior driver ojek online dan terpaksa dia harus membayar semua kopi yang diminum oleh genk si Koko. (w-2)