BerOjol,

Hanya Demi Ibu Guru

ojol jalanan jelek
ilustrasi foto : gossip Hitz
Bagikan artikel seru ini...

Seperti biasa, Ari (40) melepas lelah sejenak di depan gedung sekolah SMP di sekitar Bojong Gede, Bogor. Siang itu panas sudah mulai reda karena hari hampir menjelang sore. Lumayanlah, bisa meredakan rasa hausnya selama berpuasa.

Duduk manis dulu dah,” kata driver ojek online (ojol) yang sudah dua tahun ini narik, di pinggir jalan dekat sebuah warung. Pohon besar yang rindang cukup membantunya mendapatkan kesejukan.

Bulan puasa bagi Ari memang agak sepi order. Tapi ia jalani dengan ikhlas. “Namanya juga rezeki, sudah ada yang mengatur,” ucapnya sambil berharap dapat order di siang menjelang sore.

Tak lama kemudian, aplikasinya berbunyi. Ia melihat layar ponselnya. Ari sudah hafal siapa pemesannya karena nama yang tertera di ponselnya tak asing lagi. Langganan, karena hampir tiap hari si pemesan menggunakan jasa ojol.

Demi ibu guru dah, ambil aja,” kata Ari sambil menghidupkan mesin motornya. Sebenarnya kalau bukan si ibu guru, ia tidak ingin merespons order itu selama puasa. Hemat energi!

Ari sudah membayangkan jalanan terjal dan banyak tanjakan ke arah rumah si ibu guru. Apalagi siang menjelang sore dan ia harus sampai di rumah tepat waktu untuk berbuka puasa bersama keluarga.

Bu Ririn,” sapa Ari.

Oh, Bapak lagi ya,” kata bu guru ramah.

Iya, Bu, ayo naik,” ucap Ari ramah.

Si ibu guru tersenyum. Ia memakai helm yang diberikan Ari.

Tak lama kemudian motor segera melaju ke rumah si ibu guru. Jalanan di depan sekolah masih terbilang lebar, tapi kemudian motor harus masuk ke jalan tembus yang sempit. Ada genangan, sebagian juga menjadi becek. Belum lagi kanan kiri jalan tumbuh ilalang yang tinggi.

Jalan menuju rumah bu guru juga berada di bawah menara SUTET. Lengkap sudah tantangan Ari menuju kediaman ibu guru yang baik itu.

Lancar puasa hari ini, Bu?” tanya Ari merenyahkan suasana.

Alhamdulillah, Pak. Bapak sendiri gimana, lancar nggak nariknya?” ibu guru balik bertanya.

Alhamdulillah juga, Bu, terima saja berapa pun rezeki yang kita dapat,” jawab Ari.

Benar, Pak, belajar ikhlas saja,” bu guru merespons obrolan dengan ramah.

Kalau bukan Bu Guru yang order tadi, nggak saya ambil, Bu,” Ari pun curhat. “Jalanan di sini banyak yang menanjak dan ukuran jalannya kecil, banyak juga yang masih tanah, belum dibeton,” lanjut Ari.

Waduh, makasih, Pak, saya jadi tersanjung,” ucap bu guru agak malu-malu senang.

Pekerjaan Ibu kan mulia, saya siap membantu kapan saja,” kata Ari sambil tersenyum.

Awas, Pak, ada lubang,” tiba-tiba bu guru ngasih tahu ada bagian jalan yang rusak.

Ups, untung saja Ari sigap menghindari lubang jalan. “Makasih, Bu, maaf tadi kurang fokus,” kata driver ojol yang ramah dan selalu mengambil setiap order yang mampir di aplikasinya.

Kecuali bulan puasa, biasanya ia menyesuaikan dengan kondisi badannya. Jika tidak fit, jarak yang jauh dengan medan yang berat tidak diambilnya.

Tapi, demi ibu guru, Ari menerima order itu dengan ikhlas. Anggap saja merupakan amal baiknya dalam membantu ibu guru dalam mencerdaskan anak bangsa.

Sudah sampai, Bu,” kata driver yang dikarunia tiga anak itu.

Makasih, Pak,” ucap bu guru sambil membayar biaya ojolnya.

Dengan senyum ramah, Ari segera meninggalkan rumah bu guru. Ia menggeber motornya agar bisa tepat waktu pulang ke rumahnya. (h1)