BerOjol,

Kirain Anak-anak

penumpang cewe
ilustrasi foto : Tribun News
Bagikan artikel seru ini...

Bagi driver Ojol, manggil calon penumpang di kerumunan adalah hal biasa. Saking banyaknya orang yang menunggu, driver Ojol tahu siapa penumpangnya dari manggil nama.

Begitu pun yang biasa dilakukan Mail (25). Driver Ojol yang masih muda dan ganteng ini dapat order di depan Stasiun Pasar Minggu. Kebetulan di bawah jembatan layang banyak calon penumpang yang menunggu driver Ojol.

Begitu motor sudah berhenti di dekat jembatan layang, Mail memanggil sebuah nama.

“Ibu Ika,” kata Mail agak berteriak karena banyaknya orang. Apalagi di sekitar stasiun orang-orang pada berisik. Lalu lintas pun sangat ramai.

“Iya, saya,” jawab seorang perempuan bertubuh kecil dengan badan langsing.

Mail menatap heran calon penumpangnya. Ia heran kok anak kecil yang mau naik di daerah itu. Sekitar stasiun ini ramai dan biasanya yang order Ojol kalau nggak karyawan, pebisnis, ya pedagang pasar.

“Apa saya nggak salah lihat, nih,” batin Mail.

“Oh, Adek ya. Saya kira ibu-ibu,” celetuk driver Ojol yang biasa mangkal di sekitar stasiun itu.

“Sini, Dek, tentengannya taroh depan aja, biar Adek gak ribet,” kata Mail lagi.

Si penumpang bengong aja. Ia nggak bergerak, tatapannya ke muka Mail.

“Bang, saya udah gede, bukan anak-anak lagi. Lihat lagi nih muka saya,” kata si mbak yang ngantor di sekitar Cilandak.

“Ya, ampun… maaappp…. kirain tadi anak kecil. Maaf, Mbak,” kata Mail salah tingkah.

Si mbak yang agak baper dibilang masih anak kecil ini hanya senyum-senyum aja.

“Ke Cilandak, Mbak?” tanya Mail.

“Iya, Kakak. Anter adek ya,” canda si mbak yang masih agak kesal karena driver Ojolnya salah lihat.

“Hehehe…” Mail agak malu. Ia lalu mengantar penumpangnya ke Cilandak.

“Badan Mbak kecil, sih, dari jauh kayak masih adek-adek, bukan ibu-ibu,” Mail membuka obrolan sepanjang jalan.

“Udah dari sononya, Bang. Kecil-kecil gini, gesit loh,” kata si mbak.

Mail ketawa. Si mbak bisa aja ngelucu. Motor terus melaju. Sepanjang jalan, Mail dan si mbak terus ngobrol.

“Ngantor kok siang, Mbak, bukannya pagi?” tanya Mail.

“Iya tadi ada urusan sebentar, jadi minta izin dateng agak siangan,” jawab si mbak.

Tak terasa Cilandak udah di depan mata. Mail menghentikan motornya di depan kantor si mbak.

“Nih ongkosnya, Bang. Kembaliannya ambil aja,” kata si mbak sambil ngasih helm dan uang ke Mail.

Setelah mengucap makasih, Mail meninggalkan tempat itu. “Kecil-kecil, banyak duitnya,” batin Mail sambil senyum. (h1)