fbpx
BerOjol,

Mengantar Penumpang Banci di Hari Kartini

Illustrasi Bencong & Driver Ojol
Source : Youtube. Ojol & Bencong
Bagikan artikel seru ini...

Seperti biasa hari itu, Apit (30) driver ojek online dari salah satu aplikasi menjalankan tugasnya. Tidak ada firasat aneh yang dia rasakan ketika hendak memulai pekerjaannya. Seperti biasa, order demi order dia selesaikan tanpa komplain.

Setelah seharian mengantar penumpang ke berbagai arah, Apit pun mampir di sebuah warung untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumahnya di bilangan Bekasi. Namun baru saja hendak beranjak dari tempatnya ngopi-ngopi di bilangan Jakarta Pusat itu, tiba-tiba aplikasi ojek online miliknya mengirimkan sebuah order.

Wah, rejeki terakhir sebelum pulang. Ambil ah,” pikir Apit sumringah.

Aplikasinya pun dibuka dan alangkah senangnya dia karena ternyata yang order seorang wanita cantik. Kalau dinilai, mungkin poinnya 8 dari 10 nilai tertinggi. Sangat excellentlah untuk ukuran Apit. Dengan cepat pengemudi yang sudah dua tahun bergabung sebagai driver ojek online ini menuju lokasi penjemputan.

Setiba di lokasi penjemputan, dia melihat seorang wanita dengan perawakan cantik dan berkonde. Dengan berkebaya, si wanita jadi jauh lebih menarik. Cahaya lampu malam membuat wajah calon penumpangnya ini jadi semakin cantik. Mungkin saat itu si penumpang baru saja menghadiri acara Kartinian, maklum saat itu tepat tanggal 21 April. Tanpa pikir panjang, Apit langsung menyerahkan helm dan masker sebagai perlengkapan bagi penumpangnya.

Jalannya, pelan-pelan saja ya, Mas!” kata si penumpang dengan suara yang sangat lembut.

Iya, Mbak!” kata Apit dengan sangat sopan.

Perjalanan pun segera dilakukan. Si mbak yang cantik ruaar biasa ini tak banyak bicara selama perjalanan. Maklum saja, namanya juga wanita cantik, pastilah akan menjaga imagenya dengan baik. Pokoknya, Apit merasa senang bisa narik penumpang secantik si mbak.

Tak terasa, tujuan yang dipesan sudah semakin dekat. Hanya saja karena masuk ke dalam gang-gang yang agak sempit dan gelap, tanpa terasa si pengemudi ojol pun melaju dengan kecepatan yang agak tinggi. Tiba-tiba, sebuah “polisi tidur” dihantam dengan keras hingga si mbak hampir melompat dari jok motornya.

Alangkah terkejutnya, Apit karena si mbak berteriak kaget dan setengah marah. “Aduh duh, hati-hati dong, Mas!” kata si wanita dengan nada suara mirip laki-laki.

Iya iya, maaf Mbak! Tadi saya nggak lihat ada polisi tidur,” kata Apit coba membela diri.

Namun dalam lubuk hati Apit, dia mulai bingung dan curiga dengan penumpangnya ini. “Wah, jangan-jangan? Ah sudahlah, mungkin cuma perasaan gue doang!” pikir Apit menenangkan dirinya.

Penumpang Bencong? Bukan Mimpi

Tak beberapa lama, Apit pun sampai di alamat yang hendak dituju. Kali ini, Apit baru sadar kalau kecurigaannya tadi memang beralasan. Karena memang beberapa rumah yang ada di sekitar wilayah Jakarta Pusat itu banyak sekali beredar “wanita jadi-jadian” alias para waria atau banci.

Bingung, kaget dan takut bercampur semua dalam perasaan Apit mendapati penumpang banci. Maka dia pun buru-buru menyelesaikan ordernya dan tanpa pamit lagi, Apit pun kabur melarikan motornya sebisa mungkin. (A3)