fbpx
BerOjol,

Puasa-puasa, Eh Ban Kempes

kempes ban
ilustrasi foto : youtube
Bagikan artikel seru ini...

Bulan puasa, kalau bisa hemat tenaga saat narik. Jangan sampai ada pengalaman buruk, yang bikin energi banyak terbuang. Tapi, kadang pengalaman buruk itu tidak bisa dihindari. Panas terik matahari yang menyengat ubun-ubun bisa semakin terasa panas kalau motor mengalami peristiwa tak mengenakkan.

Siang itu, aplikasi Rafi berbunyi. Pemuda tampan yang baru dua bulan jadi driver ojek online (ojol) ini segera menjemput penumpangnya di daerah Bojong Gede. “Panas amat nih hari,” kata driver yang masih kuliah ini.

Meski panas, Rafi masih bersemangat narik, apalagi sebagai orang baru, dengan tampilan yang masih fresh, jaket dan helm ijonya pun masih kinclong.

Bu Aji?” kata Rafi setelah sampai di tempat penumpangnya menunggu.

Iya, Mas, ke arah Citayam ya,” seorang ibu menyambut panggilan Rafi.

Baik, Bu,” kata Rafi ramah. Ia segera mengantar si ibu menuju perkampungan di daerah Citayam.

Duh, panas banget ya, Mas,” kata si ibu membuka obrolan.

Benar, Bu, mana puasa lagi,” jawab Rafi.

Kalau panas begini biasanya malemnya hujan,” si ibu terus mengajak ngobrol sambil mengeluh betapa panasnya hari itu.

Rafi pun mengalami hal yang sama. Siang yang sangat terik. Apalagi dalam masa puasa, betapa sulitnya menahan haus sebagai driver ojol.

Tak terasa motor sudah mendekati Citayam. Rafi memelankan motornya karena palang pintu kereta sedang ditutup, tanda kereta akan lewat. Tapi, situasi buruk menimpa Rafi. Tiba-tiba ban belakang motornya kempes.

Yah, Bu, kena paku,” kata Rafi setelah memeriksa bannya. Sementara itu, banyak kendaraan ada di belakang Rafi. Kemacetan terjadi dari palang pintu kereta hingga Pasar Citayam.

Aduh, Mas, gimana sih, kok bisa kempes? Panas, macet lagi,” si ibu komplain, apalagi dari tadi ia terus mengeluhkan panas yang menyengat tubuh.

Mana saya tahu, Bu. Namanya juga lagi apes,” jawab Rafi sambil berusaha meminggirkan motornya. Pengendara yang lain sudah ada yang mulai berteriak nggak sabar supaya Rafi cepat meminggirkan motor.

Buruan, Bang, tarik tuh motor, biar kagak macet!” teriak salah satu pengendara yang melihat Rafi lambat menggeser motornya, karena tepat berada di jalan menanjak.

Jadi gimana dong saya,” tanya si ibu.

Ibu naik angkot saja. Nggak usah bayar ke saya, gratis. Biar saya yang nanggung risikonya. Namanya juga apes, Bu,” kata Rafi yang kemudian mencari tukang tambal ban.

Si ibu pun langsung naik angkot yang memang sedang antre kena macet di tempat itu. Sedangkan Rafi masih harus bersabar berjalan menuju tempat tukang tambal ban.

Lengkap dah deritaku,” Rafi terus berjalan pelan. Ia menahan haus dan terus berusaha untuk tidak membatalkan puasa. “Cobaan selama puasa, nih! Harus kuat,” kata driver berpostur sedang itu. (h1)