BerOjol,

Takut Ketinggalan Penumpang Enteng

supir ojol
ilustrasi foto : Kapanlagi
Bagikan artikel seru ini...

Malam sekitar pukul 19.00. Bowo (35) baru saja makan malam di warung pinggir jalan sekitar Palmerah. Tak berapa lama, aplikasi kesayangannya berdering. Pria berbadan tambun itu segera meluncur menyambut order. Seorang penumpang perempuan yang sudah menunggu di Senayan City.

Petamburan, Mbak?” tanya Bowo setelah bertemu calon penumpangnya.

Iya, Bang,” jawab si mbak.

Ayo, naik,” ucap Bowo sambil senyum ramah. “Mungil amat sih mbak,” batin Bowo.

Ia melihat postur tubuh perempuan muda itu kecil imut-imut. Beda dengan badan Bowo yang gede. Untung motornya kagak sering kempes dinaiki si driver ojek online ini.

Mau pulang, Mbak?” tanya Bowo kepada si mbak.

Iya, Mas,” jawab si mbak singkat sambil pakai helm yang disodorkan Bowo.

Motor pun segera melaju ke daerah Petamburan. Sesekali dihadang kemacetan, tapi Bowo tetap tenang menggeber motornya.

Sepanjang perjalanan, Bowo asyik belok kanan belok kiri, lalu melaju menuju rumah si mbak.

Perasaan kok enteng ya motor ini,” tiba-tiba Bowo nyadar setelah beberapa kali melewati tikungan. Apa jangan-jangan si mbak tadi nggak keangkut.

Masih ada, Mbak?” tanya Bowo kepada penumpangnya. Ia mengecek orang yang diboncengnya.

Masih. Emang kenapa, Bang?” tanya balik si mbak.

Oh, syukurlah. Kirain tadi nggak jadi keangkut. Badan mbak enteng, jadi nggak kerasa kalau ngebonceng,” ucap Bowo sambil ketawa kecil.

Yah, Abang, ngejek nih,” si mbak sedikit cemberut.

Kagak, Mbak, saya kuatir aja nggak jadi keangkut,” Bowo melanjutkan obrolan.

Emang badan saya enteng, Bang. Kurusan saya ya,” kata si mbak.

Iya juga sih, Mbak, kalau dibanding dengan badan saya yang gede,” kata driver ojek online yang tinggal di sekitar Blok M ini.

Sampailah motor di depan rumah si mbak.

Sudah sampai, Mbak. Masih ada, kan?” canda Bowo.

Ya masihlah, Bang, ini uangnya,” kata si mbak.

Makasih, Mbak, maaf tadi becanda aja, jangan marah ya, hehehe…” kata Bowo.

Santai aja, Bang,” si mbak tersenyum. Bowo pun meninggalkan tempat itu sambil masih bergumam, “Ringan amat badan si mbak. Nggak kerasa ngeboncengnya!” (h1)