IJO,

Siraman Rohani Pagi Ala Driver Ojol

galau
Foto hanya ilustrasi. Foto : Detik
Bagikan artikel seru ini...

Aplikasi milik Imam (35) berbunyi. Order dari sebuah perumahan di daerah Kebayoran Lama menuju gedung perkantoran di Palmerah siap dilayani. Imam yang jago ngaji segera menjemput calon penumpangnya, seorang perempuan muda yang bekerja di kantor Palmerah.

“Palmerah, Mbak?” tanya Imam.

“Iya, Bang,” jawab perempuan muda itu singkat. Wajah perempuan ini sepertinya agak kusut. “Kayaknya lagi banyak pikiran si mbak, atau stres ya,” batin Imam.

Perempuan muda berjilbab ini lalu naik ke motor Imam. Sepanjang jalan, Imam hendak mengajak ngobrol.

“Apa, Mas, maaf saya nggak denger,” jawab perempuan itu ketika Imam mengawali dengan salam.

“Mbak sedang ada masalah, ya?” tanya Imam.

“Sedikit,” ucap si mbak singkat.

“Ada kok Mbak obat mengatasi masalah. Manjur dah,” kata Imam.

“Apa tuh?” si mbak penasaran. Deru kendaraan lainnya sepanjang jalan sesekali harus memaksa Imam mengulangi obrolannya.

“Alquran, Mbak. Alquran itu obat segala macam penyakit,” kata Imam.

“Iya sih, Mas,” si mbak mengiyakan.

“Kalau bisa, tambahin sama shalat malam, dua rakaat saja, Mbak. Seminggu sekali aja, Mbak. Dahsyat efeknya,” ucap Imam.

Si mbak rupanya menyimak apa yang dikatakan Imam. Mungkin si mbak membatin, “Jago juga nih driver.” Sebenarnya Imam juga agak takut-takut untuk ngomongin soal Alquran, takut dianggap sok alim.

“Alhamdulillah, si Mbak nggak marah,” batin Imam.

“Mas jago ngaji, ya,” tanya si mbak.

“Nggak juga, Mbak, saya masih belajar,” Imam merendah. “Dalam Islam, Alquran itu adalah obat, Mbak. Kalau Mbak lagi ada masalah atau sakit, baca aja Alquran. Insya Allah, Mbak bisa jadi tenang dan dapat jalan keluarnya. Maaf nih Mbak, bukan maksud menggurui ya,” kata Imam.

“Nggak kok, Mas, makasih sarannya. Saya senang kok bisa ngobrolin ini. Hati lebih adem,” kata si mbak.
Sampailah motor Imam di kantor si mbak. Penumpangnya itu segera turun dari motor, lepas helm, dan bayar ongkosnya.

“Makasih, Mas, dapat bonus siraman rohani,” kata si mbak sambil tersenyum.

Imam tersipu malu. Tapi ia senang, ilmu ngajinya ternyata mempan juga untuk menjadi siraman rohani pagi bagi si mbak yang hari itu sedang suntuk. (h1)